Jumat, 23 Agustus 2024

Adzan terakhir Bilal

Setelah Wafatnya Rasulullah lama sekali Bilal tak mengunjungi Madinah. Sampai pada suatu malam Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal dan menegurnya. "Hai, Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?" Bilal pun bangun terperanjat. Segera dia mempesiapkan perjalanan ke Madinah untuk ziarah ke makam Rasulullah. 


Setiba di Madinah, di depan makam Rasul yang mulia itu, Bilal tersedu sedang melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih. Saat itu dua pemuda yang telah beranjak dewasa mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasullulah. Hasan dan Husein. Dengan mata sembap oleh tangis, Bilal menatap lama kedua cucu Rasulullah tersebut kemudian memeluknya sambil berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh bau keringatmu aku temukan di cucumu ya Rasulullah." Salah seorang dari keduanya berkata kepada Bilal, "Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami".

Bilal pun memenuhi permintaan itu untuk mengenang Rasulullah. Maka, saat waktu shalat tiba, dia naik ke tempat dahulu dia biasa adzan pada zaman Rasulullah masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz 'Allahu akbar' di kumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap. Segala aktivitas terhenti. Semua terkejut. Suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok agung, suara yang begitu di rindukan telah kembali.


Ketika Bilal meneriakkan kata 'Asyhadu allaa Ilaaha illallaah' seluruh isi kota Madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak. Bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Sebab, dahulu setiap ada suara seperti itu pasti ada Rasulullah di masjid. Mereka berlarian ke masjid karena kerinduan yang membara ingin berjumpa dengan Rasul yang telah sekian lama hilang dari pandangan mereka. Begitu suara Bilal terdengar, banyak yang tidak sadar bahwa Rasulullah telah wafat. Saat Bilal mengumandangkan 'Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah', Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan.


Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, dan Umar bin Khattab lah yang paling keras tangisnya. Bahkan, Bilal sendiripun tak sanggup meneruskan adzannya. Lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu Madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah di antara mereka. Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang tidak bisa di selesaikan karena isakan tangis rindu kepada sosok Rasulullah


Source : @userdika_5 on tiktok

Rabu, 21 Agustus 2024

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalaam


Saat Allah berkata "Jika bukan karena engkau wahai Muhammad, aku tidak akan menciptakan langit, bumi beserta isinya,". Tertunduklah Nabi Muhammad sambil berkata "Kalau memang engkau ciptakan langit dan bumi itu karena aku, kemudian aku ini untuk siapa wahai Rabb-ku?", Allah pun menjawab "engkau ku ciptakan khusus untuk menjadi kekasih-ku wahai Muhammad".

Kemudian Allah bertanya kepada Nabi Muhammad "Wahai Muhammad kau sudah tau langit dan bumi kuciptakan untuk engkau, lalu aku (Allah) ini untuk siapa wahai Muhammad?". Terdiam Nabi Muhammad, beliau tertunduk dan tidak bisa menjawab. Maka Allah menjawab "Sampaikan kepada semua umatmu wahai Muhammad, aku (Allah) ini, untuk semua umatmu yang lidahnya basah bersholawat kepadamu Wahai Muhammad".

Sebesar-besarnya cinta adalah cinta segitiga antara Allah, Rasulullah dan kita sebagai Hamba-nya


Source : @01.26_ on tiktok

Sayyidah Fatimah Az-Zahra

 Source : @Syfzyn26 on tiktok

Baju Sayyidah Fatimah berwarna hitam, jika dia keluar rumah, semua akan tertutup, tidak ada perbedaan antara depan dan belakang, hanya satu lubang kecil untuk melihat jalan. Dia belum pernah melihat pria lain, dan pria lain juga belum pernah melihatnya. Allah menaikkan derajatnya, maqomnya Sayyidah Fatimah akan berlalu di Padang Mahsyar nanti dengan menunggangi seekor unta, kepalanya menandakan ketundukan kepada Allah, dan matanya memancarkan cahaya.


Saat itu Jibril berjalan di sisi unta, Mikail di sebelah kiri, Sayyidina Ali di depan, Hasan dan Husein di belakang, dan Allah sebagai penjaganya. Ketika ingin melalui Padang Mahsyar, terdengar suara "Wahai seluruh makhluk, tundukan kepala dan mata kalian, karena Fatimah, putri nabi kalian, istri Ali imam kalian, ibunda Hasan dan Husein akan lewat". Pada saat itu semua golongan manusia, baik para nabi, para syuhada dan lainnya menundukkan pandangannya sebagai penghormatan kepada Fatimah yang saat itu bersama 70.000 rombongan wanita penghuni surga.





Selasa, 20 Agustus 2024

Penyihir Ever Glimmer - Indonesian Fairy Tales




Dahulu kala di kota Ever Glimmer yang unik, terletak di antara perbukitan dan jalan berbatu, hiduplah empat sahabat yang tidak biasa: Willow sang Herbalis, Luna sang Peramal, Ember sang Pembakar Api, dan Mortia sang Ahli Nujum. Sangat berbeda, para penyihir yang tidak cocok ini disatukan oleh pancaran sihir mereka yang tak terlihat.


Willow, dengan rambut sewarna bunga liar musim semi, memiliki ketertarikan yang aneh pada tanaman. Saat masih kecil, tawanya dapat menghidupkan kembali bunga yang layu, dan air matanya yang salah tempat akan menumbuhkan bercak-bercak lumut yang berwarna-warni di mana pun air matanya jatuh.


Luna, dengan mata yang memantulkan langit yang diterangi bulan, menunjukkan kemampuan luar biasa untuk melihat masa depan sejak usia muda. Dia akan melontarkan peringatan samar tentang cangkir teh yang pecah dan sepatu yang salah tempat, membuat orang-orang bingung dan sering dikucilkan.


Ember, pembakar yang berapi-api, dapat menyalakan api dengan jentikan pergelangan tangannya. Saat masih kecil, kemarahannya akan terwujud dalam bentuk api unggun spontan, yang membakar boneka-boneka kesayangannya dan menghanguskan tirai keluarga.


Mortia, yang diselimuti aura rasa malu yang tenang, dapat berkomunikasi dengan bisikan-bisikan yang tak terlihat diikuti oleh celotehan hantu dan peri-peri yang suka bermain. Rasa malunya membuatnya dikucilkan, tetapi bakatnya dianggap menakutkan dan meresahkan.


Para penyihir yang tidak cocok ini, yang dikucilkan oleh keluarga dan teman-teman mereka, menemukan pelipur lara dalam kebersamaan satu sama lain dan membentuk sebuah kelompok penyihir, Kelompok Penyihir Everg Glimmer. Bersama-sama, mereka menjadi lebih kuat dan berusaha untuk memenangkan hati penduduk Everg Glimmer.


Pada suatu hari yang menentukan, mereka menggunakan kekuatan mereka untuk menyelamatkan kota dari kekeringan dan kebakaran yang dahsyat. Mortia membantu seorang janda yang berduka menemukan ketenangan, dan Luna menyelamatkan seorang gadis kecil dari bahaya. Penduduk Everg Glimmer mulai menerima kelompok penyihir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka, dan keempat sahabat itu berkumpul di pondok Willow yang nyaman, mendiskusikan petualangan mereka baru-baru ini ketika mereka mendengar ketukan di pintu.


Yang mengejutkan mereka, mereka diundang ke jamuan makan malam kerajaan oleh Putri Aara. Para penyihir menerima undangan tersebut, dan saat jamuan makan malam, Putri Aara mengungkapkan bahwa seseorang di istananya telah menyebabkan kekacauan dan melemahkan kekuasaannya dari dalam. Para penyihir setuju untuk membantu dan segera menemukan bahwa Lord Aic-lah yang menjadi pengubah wujud, yang menyebabkan kekacauan dan mengikis kepercayaan terhadap kerajaan.


Para penyihir menghadapi Lord Aic dan, menggunakan kekuatan mereka, mengungkapkan wujud aslinya dan mengusirnya dari kerajaan. Orang-orang Everg Glimmer merayakan para penyihir sebagai pahlawan, dan sejak hari itu, mereka hidup bahagia selamanya, selamanya diawasi oleh pahlawan mereka yang tidak terduga, para penyihir yang tidak cocok.





Adzan terakhir Bilal

Setelah Wafatnya Rasulullah lama sekali Bilal tak mengunjungi Madinah. Sampai pada suatu malam Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal dan menegu...